Dear Diary-nya Rey.
Saya bingung mau nulis apa yang cepat, karena hendak mengejar waktu tidur. Dari tadi mau nulis ini buat setoran di website tantangan menulis. Tapi nggak enak nulisnya karena ada si Kakak dekat saya. Jadi saya nunggu dia masuk kamar tidur baru deh saya mulai nulis.
Btw, tulisan ini mungkin terbaca sensitif, saya ingatkan bagi pembaca untuk sebaiknya tidak diteruskan membaca karena nggak penting juga, hehehe.
Trus kenapa ditulis, Rey?.
Sejujurnya saya pengen nulis ini buat kasih link-nya kalau ada teman-teman yang peduli dengan kebahagiaan saya dan berharap saya mengurus surat cerai ketika mengeluhkan hidup ini.
Saya capek menjelaskan kepada teman-teman satu persatu, apa alasan saya enggak langsung urus surat cerai, meskipun belum tentu saya tuliskan di sini, teman-teman akan mengerti juga sepenuhnya.
Tapi setidaknya, saya bisa menghemat waktu untuk tidak perlu menuliskan alasan panjangnya lagi.
Btw, saya sebenarnya bingung, mau mulai bercerita dari mana. Kisah ini bermula dari ketika saya menggunakan facebook sebagai media untuk melepaskan rasa sesak di dada.
Maklum ya, saya nggak punya tempat mengadu hingga puas, nggak punya uang lebih juga buat curhat di psikolog.
Udah kok curhat di Allah, tapi saya juga manusia yang kadang nggak bisa kalah dengan overthinking dan segala kecemasan diri.
Karenanya, ketika hal itu terjadi, kayak kemarin saya minta si Kakak untuk tanyain biaya hidup mereka ke papinya. Saya nggak pernah lagi komunikasi dengan papinya, bahkan nomor saya udah di blokir oleh papinya. Jadi, satu-satunya cara untuk berkomunikasi ya dengan mengandalkan anak-anak ngomong sendiri ke papinya.
Si Kakak udah coba WA, tapi enggak dibalas-balas, dibaca aja enggak.
Salah satu hal yang paling bikin saya benci sampai ingin memaki tapi urung karena percuma, palingan membatin apakah ibunya di alam sana tenang punya anak kayak gitu (saking kesalnya saya). Adalah kebiasaan super buruk manusia itu yang seenaknya mengabaikan WA penting dari orang.
Inilah masalah yang paling sering bikin saya sakit hati sampai di ubun-ubun, udah puluhan kali dia melakukannya. Setelah itu hilang kontak, dan kalau pulang kayak nggak terjadi apapun.
Akhirnya nomor WA-nya saya simpan di arsip saja, malas banget dilihat. Toh nggak pernah ada komunikasi juga, dan untuk bikin dia nggak mengentengkan sakit hati ini, saya pajang deh komunikasi tentang ibunya yang malang dan diulang kisahnya ke saya.
Sepertinya chat itu udah dia baca, makanya dia blockir nomor saya, mungkin dia sakit hati dan nggak mampu menghadapi kenyataan ketika merasakan apa yang dia lakukan ke saya.
Balik lagi ke masalah si Kakak.
Karena nggak dibalas-balas, akhirnya ditelponlah, dan butuh sampai belasan atau lebih juga kali panggilan hingga akhirnya diangkat.
Si Kakak menjelaskan bahwa mereka butuh makan, dan biaya sekolah serta tempat tinggal. Tapi dengan santai papinya bilang kalau nggak punya duit. Saya tahu karena sengaja di loudspeaker sama si Kakak.
Tapi masalahnya adalah, papinya mulai melebar ke mana-mana, ujungnya dia mengungkit katanya 'bilang maminya tidak semua keinginannya harus dipenuhi!'.
Sakit hati banget saya dengarnya, saya bilang ke si Kakak, untuk menyampaikan, emang keinginan maminya yang mana?. Ini uang buat makan, sekolah dan tempat tinggal anak-anak.
Eh malah diungkit, siapa suruh pergi dari rumah bapaknya, padahal enak tinggal di sana. Astagfirullah, diungkit lagi.
Well, saya tahu banget itu hanya gaslighting dia menyalahkan semua kegagalan hidupnya ke saya. Tapi dampaknya luar biasa banget, saya sakit hati banget, sampai tersengal-sengal. Rasanya dada panas kayak terbakar, kayak sesak nafas, semua berkumpul jadi satu.
Akhirnya saya putuskan curhat di facebook, untuk melegakan hati.
Alhamdulillah tanggapan teman-teman masih penuh empati sih, cuman ada beberapa komentar yang kadang bikin saya lelah jawabnya.
Salah satunya adalah pertanyaan, kenapa sih nggak cerai saja? apa perlu ditemani ke pengadilan agama?
Saya lelah banget menjawab hal ini, karena sejak dulu setiap kali saya curhat, teman-teman mungkin kesal, dan ingin saya lepas dari pasangan toksik.
Tapi sebenarnya mereka salah paham, karena cerai pun bukan merupakan suatu hal yang urgent. Masalah saya tuh uang untuk anak-anak.
Bahkan saya sakit hati berkomunikasi dengan papinya anak-anak ya karena uang. Kalau bukan masalah anak-anak butuh uang, saya dan anak-anak juga fine-fine bahkan fun aja hidup bertiga.
Saya udah terbiasa banget selama 5-6 tahun lebih banyak hidup ber-3 sama anak-anak. Bahkan ketika akhirnya kami harus move ke Surabaya hingga akhirnya mendapatkan perlakukan yang bikin trauma dari ortunya. Saya pindah dengan mengandalkan diri sendiri.
Karenanya, saat ini saya hanya mampu tinggal di tempat yang sedikit mahal, karena nggak sanggup bayar yang agak murah, tapi bayarnya minta minimal setahun bahkan 2 tahunan.
Saya pindah sendiri dari Sidoarjo, bawa baju naik motor bertiga sama anak-anak, bahkan seringnya sambil nangis di perjalanan karena si Adik tidur di motor. Kebayang kan bagaimana stresnya saya naik motor sambil bawa tas baju dan perlengkapan lainnya tapi si Adik ngantuk sampai hampir jatuh.
Intinya, kalau masalah pasangan saya mah udah nggak terlalu dipikirin, lagian toh kami udah terlalu sering nggak ada komunikasi.
Masalahnya itu ada pada keuangan anak-anak, jadi mau cerai atau enggak, nggak ada bedanya. Karena toh saya harus sering berhubungan (minimal melalui anak-anaknya), jika butuh uang untuk anak-anak.
Memangnya siapa lagi yang bisa saya mintain selain papinya? inilah masalah utamanya, yang saya pikir, nggak guna nambahin kerjaan ke pengadilan agama saat ini.
Karena toh cerai juga butuh duit, tapi saya nggak punya duit. Terus abis cerai gimana? adakah surat cerai itu bisa diuangkan?.
Saya sangat mengenal papinya anak-anak yang makin tua makin menjijikan sikap manipulasi dan gaslighting-nya. Sekarang saja susah dimintai uang untuk anak-anaknya, apalagi kalau udah cerai?.
Yang ada dia akan mencari alasan lain, 'kalau mau anak-anak aku kasih uang, jangan suruh anak tinggal sama kamu!'.
Nah, lalu saya pun terpisah dengan anak, iyaaaa kalau anak-anak happy dan keurus sama papinya, kalau enggak? trus apa esensinya bercerai itu?.
Ada yang bilang, percaya deh Mbak Rey, rezekimu akan berlimpah kalau udah cerai!
How?
I mean, kita berpikir secara realita aja deh, jangan berharap hal-hal yang belum tentu terjadi!.
Rezeki itu sepaket dengan usaha. Dan meski belum bercerai, usaha saya juga nggak main-main loh, sudah sejak 6 tahunan belakangan ini hidup saya sangat nggak sehat karena kurang tidur. Percayalah, nggak ada perempuan yang sukses dalam karir dan mencari uang tanpa support sistem sama sekali.
Semua orang butuh bantuan.
Sementara saya nggak punya satu orang pun di dunia ini.
Bapak saya udah meninggal, mama saya udah menganggap saya nggak ada, gegara terakhir kali saya pulang, saya berselisih sama kakak dan mama membela kakak.
Gara-gara itu, mama membiarkan saya pulang ke Surabaya tanpa diantar siapapun, dan sejak saat itu juga saya bolak balik menelpon mama nggak diangkat, saya SMS nggak pernah dibalas. Bahkan sengaja membeli nomor baru untuk WAnya demi saya nggak bisa WA mama.
Pada akhirnya saya menyerah dan menjalani kehidupan dengan kesadaran kalau saya memang sendiri.
Kenapa nggak pulang dan minta maaf sama mamanya? karena masalahnya juga nggak sesederhana mama nggak mau membalas semua panggilan dan pesan saya. Ada alasan penting juga yang sejujurnya ini sebagai bentuk perhatian saya sama kakak.
Suatu saat saya ceritakan deh, jangan di sini nanti kepanjangan.
Intinya, bagaimana caranya saya bisa sukses, kalau enggak ada yang support, enggak ada tempat pulang, dan bercerai maupun enggak, kondisi saya ya tetap kayak gini.
Harus mengurus 2 anak seorang diri, dari masak, nyuci, nyetrika, urus anak, dan lainya. Sampai-sampai waktu cari duit jadi sangat terbatas.
Saya bahkan mengorbankan waktu tidur saya selama bertahun-tahun, dengan hanya punya waktu tidur 2-3 jam setiap harinya.
Dan ini udah berjalan bertahun-tahun loh. Apa bedanya saya cerai atau enggak?.
Kalau ditanya enakan cerai atau enggak, jujur saya sudah nyaman sendirian begini, saya hanya menunggu waktu yang tepat salah satunya adalah kesiapan finansial untuk anak-anak.
Kalau ada teman yang benar-benar peduli, mungkin satu yang sangat saya butuhkan, pekerjaan yang bisa mendatangkan penghasilan tetap buat saya dan anak-anak, namun dengan syarat bisa dikerjakan remote.
Pertama, nggak ada tempat menitipkan anak, kalaupun banyak, setidaknya saya kudu punya gaji 2 digit biar bisa menghidupi semuanya, ya bayar penitipan, bayar kebutuhan hidup.
Kedua, saya masih harus antar jemput anak-anak, jadi waktu saya juga kepotong dengan kegiatan antar jemput setiap Senin-Sabtu, bahkan Sabtu harus ke sekolah 2 kali.
Belum dengan berbagai kegiatan yang melibatkan ortu yang nggak ada putusnya, hiks.
Jadi, bagaimana bisa surat cerai bisa menjawab semua keadaan itu?.
Agar lebih jelas, saya tuliskan poin-poin alasan mengapa nggak cerai aja? dan jawaban saya, karena surat cerai nggak bisa diuangkan sementara saya butuh uang yang nggak sedikit buat anak-anak.
- Saya butuh uang untuk anak-anak, bukan butuh surat cerai
- Cerai biar apa? toh kondisi sekarang juga sudah sama kayak cerai, bedanya nggak ada suratnya aja, orang udah lama nggak pernah ketemu bahkan enggak komunikasi.
- Saya sebatang kara, nggak punya ortu yang bisa menjadi tempat pulang.
- Saya nggak punya tempat tinggal buat anak.
- Saya tidak punya penghasilan tetap yang cukup untuk membiayai anak-anak.
- Kalaupun cerai membuka pintu rezeki? dari mana? saya tetap harus menjemput rezeki, dan untuk itu harus ada yang bisa bantuin urus anak-anak, siapa?
- Dan masih banyak lagi.